Tuesday, September 8, 2009

Selamat Ulang Tahun Nak!


Hari ini, selasa (08/09) puteriku Anindya Elvaretta Ramadhani genap berusia satu tahun. Rasanya baru kemaren aku mengantar isteri ke rumah sakit, menjalani prosesi detik demi detik kelahirannya. Kini ia mulai tumbuh, setidaknya beberapa tanda fisik seperti, giginya telah ada dua buah, bisa berjalan meski sesekali masih terjatuh, bertepuk tangan, dan menggoyangkan badan bila ada suara musik. Kemaren sore kita terkejut ketika sehabis pulang kantor dan menyapanya, ia dengan jelas memanggil nama “ayah”.

Selama bulan puasa ini ia seperti tidak pernah absen ikut buka puasa dan santap sahur. Semalam sebagai salah satu tanda syukur kita berdo’a bersama, ada pula kue tart yang kita beli sore harinya. Sederhana saja, namun kita menjadi lebih mengerti makna kelahiran dan kehidupan yang musti disyukuri. Dan itulah pesan yang kita kirim ke anak kami, bahwa ritual ultah hanyalah hal biasa, namun rasa syukur itulah yang musti kita tingkatkan.

Kami juga telah punya rencana sebelumnya, kalau momentumnya tepat dan memang kita punya rezeki kita akan berbagi bersama tetangga sekitar. Maka tadi pagi bersama Bunda ia berkeliling membagikan paket ultahnya. Mudah-mudahan dengan cara itu juga membiasakan suka memberi dan berbagi bila kita dianugerahi kenikmatan.

Nak…selamat ulang tahun…nikmati masa anak-anakmu…remaja dan orang tua….dan dewasalah….bersahabatlah dengan alam raya; angin, air, tanah dan api… jadilah anak yang sholehah…berbakti kepada orangtuamu, berguna untuk Negara dan Agama...

Read More......

Sunday, June 14, 2009

Membaca Kembali Buku Cetak Biru Pembaruan MA


Keberadaan lembaga penegak hukum yang kuat dan terpercaya merupakan keniscayaan dalam negara demokratis. Lembaga penegak hukum menjadi salah satu pilar demokrasi yang tertuang dalam prinsip trias politika. Momentum reformasi 1998 ikut mendorong agar lembaga penegak hukum atau peradilan berbenah dan berubah. Untuk itu pada tahun 2003 Mahkamah Agung sebagai lembaga peradilan tertinggi, yang juga membawahi secara administrasi dan keuangan 4 lingkungan peradilan yang ada di Indonesia mengeluarkan buku dengan judul Cetak Biru Pembaruan Mahkamah Agung RI.

Menurut Bagir Manan, ketua MA pada saat itu menyatakan bahwa buku Cetak Biru (blueprint) Pembaruan Mahkamah Agung RI merupakan sebuah pedoman/arah dan pendekatan yang akan ditempuh oleh Mahkamah Agung sebagai lembaga yang terhormat dan dihormati oleh masyarakat dan lembaga Negara lainnya. Hal itu dilakukan karena tuntutan reformasi juga Mahkamah Agung kerap mendapat sorotan negatif dari berbagai kalangan, walau tidak seluruhnya benar. Integritas, kualitas dan kinerja sebagian Hakim dan Hakim Agung serta pegawai yang bekerja di Mahkamah Agung dipertanyakan oleh sebagian pihak.

Buku cetak biru ini disusun dari studi mendalam yang berisikan diagnostik atas suatu lingkup permasalahan dan sumber permasalahan tertentu yang dihadapi Mahkamah Agung selama ini. Rekomendasi teknis dan upaya memperbaikinya, kerangka waktu pelaksanaan serta indikator-indikator yang dapatb dipergunakan untuk mengukur keberhasilan disajikan secara komprehensif. Adapun ruang lingkup isu (permasalahan) yang menjadi sorotan cetak biru ini adalah: Visi dan Misi, Independensi, Organisasi dan kultur kerja, Sumber Daya Manusia, Manajemen Perkara, Akuntabilitas, Transparansi dan manajemen Informasi, Pengawasan dan Pendisiplinan, dan Dukungan Sumber Daya Keuangan.

Buku cetak biru MA berisi 10 Bab dan 281 Halaman disusun oleh Tim Penelitian yang terdiri dari Mahkamah Agung dan Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP) yang diterbitkan bekerjasama dengan The Asia Foundation, USAID, dan Partnership. Buku ini cocok dibaca bagi mereka pemerhati penegakan hukum di Indonesia dan khusunya para Hakim dan Pegawai di lingkungan Mahkamah Agung di era Reformasi Birokarsi yang sedang berjalan saat ini. Ibarat kata buku ini seharusnya menjadi semacam “Kitab Suci” pembaruan di Mahkamah Agung.

Read More......

Thursday, May 21, 2009

Puteriku Mulai Belajar Berdiri... tapi belum tumbuh Gigi..


Usia puteriku "Anindya" kini telah masuk delapan bulan jalan. Seperti umumnya anak usia tersebut ia lagi asyik belajar berdiri dan mengatur keseimbangan kaki dan tubuhnya. Memang, aku selalu memantau setiap perkembangannya, untuk itu setiap temen-temen yang udah punya anak selalu aku ajak diskusi soal tersebut. Kalau sekedar berdiri tegak berpegangan tangan dengan bantuan kursi dan meja ruang tamu, atau ketika saya lagi Sholat ia sudah biasa. Ketika berdiri tanpa bantuan ia telah kuat berdiri 1-2 menit lalu ambruk dan berusaha bangkit lagi, demikian kebiasaannya paling sering saat ini.

Namun Gigi-Giginya belum tumbuh, hanya gejala mau tumbuh memang telah terlihat. Anak temen sekantor yang punya selisih lahir seminggu sebelumnya telah tumbuh dua gigi bawahnya. Berbagai referensi tentang itu menyebutkan bahwa perkembangan berjalan dan tumbuh giginya tiap anak berbeda-beda, ada yang cepat dan ada pula yang lambat rentangnya antara usia 6-12 bulan. Jadi bagi keluarga yang mempunyai Anak bayi seperti kami perlu pemahaman yang baik agar tetap memberi perhatian setiap perkembangannya dan tidak terjebak pada mitos-mitos yang sering belum tentu kebenarannya.

Ada cerita menarik dari salah satu temen saya yang saat ini tinggal di Magelang. Saat ini kedua anak laki-lakinya satu di atas dan satu di bawah balita. Ia mengatakan bahwa salah satu yang membuat pusing dan penatnya seketika hilang tatkala kedua anaknya secara bersamaan minta duit jajan ketika tiap ada tukang jajanan lewat "kepala ini rasnya makpyarrrr....dan penat hilang dengan hiburan anak-anak...biarlah mereka tidak perlu tahu pusingnya orang tua..." ujarnya sambil tertawa.

Saat ini Anaku belum minta jajan seperti kedua anak temenku di atas, justeru dia selalu memberikan senyum lepas ketika ia lagi seneng tapi cukup senyum simpul kalau lagi bete tiap kali Ayahnya berangkat dan pulang kantor. Seperti halnya mereka aku-pun merasa hilang penat dan pusing cukup dengan menatap dan menyambut senyuman buah hatiku. Makpyarrrr....dan Makyessssss....

Saya sering bertanya, apakah ini yang disebut salah satu kebahagiaan Batiniah itu. Sebuah kebahagiaan yang begitu dalam terasa dalam hati, serta mampu memberikan rasa cerah dalam wajah. Entahlah, karena aku bukan seperti mereka yang puitis dan mampu merangkai kata indah, tapi yang jelas saya merasa bahagia dengan hadirnya buah hatiku, bahagia dengan senyumannya. Jadi, teruslah tersenyum sayangku...karena dengan senyumanmu...duniapun akan tersenyum untukmu.....:)

Read More......

Wednesday, May 20, 2009

Integritas Keteladanan daripada Paradigma Lama dan Baru


Mencari figur pemimpin yang katakanlah reformis di era reformasi birokrasi ini sepertinya tetap saja tidak mudah. Termasuk menentukan kriteria pemimpin reformis itu sendiri perlu pemilahan dari aneka sudut pandang. Sampai disini, kelihatan sudah mulai berkompromi. Sepertinya birokrasi kita memang masih serba kompromi dan sangat "permisifif'. Namun, dalam kacamata pengamatan saya masih ada beberapa pemimpin di lembaga yang bisa kita teladani. Indikatornya, ucapan dan tindakannya masih selaras.

Contoh kecil daripada keselarasan tersebut adalah, setelah ada edaran bahwa Pejabat yang turun ke bawah dalam rangka apapun termasuk pemeriksaan dilarang menerima semacam amplop diapun berkomitmen seperti edaran itu. Maka, ketika dia konsisten dengan ucapan dan tindaknnya tersebut dia menjadi seorang penjabat bukan saja berwibawa tapi disegani sebagai pribadi dan pemimpin yang memberikan keteladanan.

Namun, tidak sedikit pejabat yang seperti enggan beranjak dari paradigma lama. Paradigma bahwa pejabat tersebut adalah priyayi mesti segalanya tercukupi oleh sambutan dan suguhan anak buahnya. Tipikal pejabat seperti kelihatanya dihormati, tapi sesungguhnya ia mendapat kehormatan semu semata. Sesudahnya, ia hanya sekedar bahan obrolan dari contoh pemimpin yang tidak mencerminkan integritas daripada keteladanan yang baik

Semuanya seperti mata rantai yang terkonstruk dalam budaya. Tapi, saya tidak sependapat kalau hal itu adalah cerminan budaya bangsa. Perilaku seperti contoh di atas bisa dibentuk bisa pula dirubah. Karena sebuah perubahan tergantung pada setiap pribadi bagaimana ia memposisikan dalam perubahan tersebut. Pilihannya adalah apakah kita masuk dalam arus paradigma dan budaya masa lalu atau membentuk, menciptakan, dan melaksanakan budaya dan paradigma baru?

Read More......

Monday, November 10, 2008

Anindya Elvaretta Ramadhani


Filsafat atau kebijaksanaan yang sempurna di Bulan Ramadhan. Itulah arti menurut 3 bahasa, Jawa, Yunani dan Arab. Meski seorang temen pernah sms, "wuihh..namanya camera face..bangetttt...

Setidaknya dengan nama itu telah menggugurkan kewajiban sebagai orang tua yakni, memberi nama yang baik. Setelahnya, tinggal memberi pendidikan setinggi atau semampu mungkin dan terakhir menikahkan.

Cepatlah besar nak...Do'a kami selalu menyertaimu..."Rabbanan Hablana min azwajina wa dzuriyatinna qurrota a'yunin...jadilah anak sholihah yang berguna bagi nusa, bangsa, negara, dan agama...

Read More......

Thursday, September 11, 2008

Lahirnya Puteri Pertama Kami


Secara perhitungan “hisab dan rukyat” (USG) Hari Perkiraan Lahir atau yang biasa populer dengan sebutan HPL isteri saya jatuh pada Selasa, (9/9) bertepatan dengan ulang tahun Presiden SBY. Namun manusia hanya bisa merencanakan, berusaha dan berdo’a, soal hasil akhir Kekuasaan absolute Tuhan tidak bisa ditawar. Setelah melalui proses yang panjang dengan iringan Takbir, tahlil dan tahmid akhirnya isteri saya melahirkan di RS Wirosaban, Senin Wage, (8/9), berat 3200 Gram, Panjang 49 cm, maju sehari dari prediksi tim dokter Kerumah sakitan.

Waktu itu, Sabtu, (6/9) perut isteri sudah mulai mulas, beberapa tanda umumnya Ibu Hamil yang hendak melahirkan telah tampak. Sebelumnya kami memang berencana kontrol rutin tiap Sabtu di RS Wirosaban yang jaraknya kira-kira 1 KM dari kontrakan. Kesimpulan Dokter menyatakan isteri saya telah memasuki fase pembukaan 1, fase pembukaan katanya ber-grade dari 1 sampai 10. Menurutnya bila mau langsung opname bisa saat itu juga tapi kami sepakat menundanya hingga ada fase pembukaan lebih lanjut.

Sore harinya tanda kelahiran semakin terlihat hingga kami tidak lagi berspekulasi. Dengan tekad, semangat dan Basmalah kita berdua berangkat ke RS menunggu fase per fase hingga akhirnya melahirkan. Hingga malam Senin pembukaan masih tetap diangka 1, beberapa Bidan dan atas petunjuk Dokter mencoba menengkan kami bahwa untuk kelahiran anak pertama fase pembukaan biasa lebih lambat, 2-3 hari itu biasa.

Senin pagi saya pulang mengambil perlengkapan. Sebelum berangkat saya Sholat Duha dan memohon agar semua berjalan lancar. Sesampainya di RS, Isteri saya sudah didatangi Dokter dan beberapa Bidan katanya sudah masuk pembukaan 8, rasa senang seketika mucul seiring degup jantung yang lebih kencang dari biasanya, mungkin tanpa berlebihan mirip Bass Sound di Soundrenaline beberapa waktu yang lalu, Dug, Dug, Dug.

Tepat pukul 8 Dokter mulai bergerak, memimpin komando proses persalinan. Proses persalinan mirip derap maju demonstran yang terorganisir, maju dua langkah lalu berhenti, ambil nafas, maju lagi kadang lima langkah tergantung situasi lapangan. Meski ada pula demonstrasi yang anarkis inginya langsung menjebol pertahanan berikade. Saat itulah takbir, tahlil, tahmid nyaris tanpa henti, yang akhirnya keluarlah puteri pertama kami dengan selamat ke dunia tepat pada pukul 09.10 WIB, Alhamdulillah!!!.

Setelah beberapa saat saya mengajukan beberapa permintaan ke Dokter, agar anak saya dilakukan Inisiasi Dini (Proses peletakan bayi di dada ibunya setelah dilahirkan dan pemberian ASI pertama), namun sayangnya proses itu tidak maksimal dan hanya berjalan kurang dari 30 menit karena saat itu ASI belum langsung keluar. Selanjutnya saya melakukan prosesi Sunnah rasulullah yakni Sujud syukur, Adzan, Iqamah di telinga kanan dan kiri.

Ketika prosesi persalinan selesai hampir semua kerabat dekat dan jauh langsung saya hubungi tentang kabar berita gembira tersebut. Balasan selamat bertubi-tubi, ada yang puitis seperti” Semoga semesta damai berkelopak bunga kesejahteraan,begitupula kebahagiaan bermekaraan,kurnia rejeki menambah daya hidup, amin. (Plengeh). Ada yang langsung menasihati “Kewajiban ortu, 1.mmberikan nama yang baik. 2. mendidik anak setinggi-tingginya (semampunya), 2. menikahkannya. (Alung). Ada yang langsung masuk dunia primbon” Selamat, wetonya senin wage, sama dengan saya, pasti cerdas” (lik sito). Bahkan ada dari Australia “Alhamdulillah, dari negeri seberang kita ikut berbahagia”. (zaenal&yunes).

Semua sms balasan mendo’akan, ikut bahagia, agar puteri kami menjadi anak sholeh berbakti kepada orang tua, berguna bagi nusa, bangsa, Negara dan agama, begitu kira-kira kesimpulannya. Kami juga sangat berterima kasih kepada seluruh temen, kawan, sahabat, rekan kerja, dan siapapun yang mendo’akan proses kelahiran puteri kami berjalan dengan lancar. Jazakumullah khairul jazza.*(Masdo)

Read More......

Wednesday, August 13, 2008

Nonton Soundrenaline 2008 di Prambanan


Siang itu cuaca Jogja tidak terlalu panas, bahkan pagi harinya gerimis sempat datang meski hanya sebentar. Meski Isteri lagi Hamil 8 Bulan kami sekeluarga sepakat kalau Pekan 10/8/2008 ini mau nonton Musik yang katanya terbesar di Indonesia. Maka selepas Dzuhur kami berangkat ke Prambanan tempat Festival Musik Soundrenaline 2008 diselenggarakan.

Saat kami tiba ribuan orang mulai membanjiri arena, ada yang berjalan kaki dan tidak sedikit yang memakai kendaraan bermotor. Di tempat acara telah berdiri 4 Panggung besar, dan sebuah panggung untuk partisipasi band indie. Saat itu J-Rock membakar penonton, berjingkrak dan berteriak sembari mengibarkan nuansa nasionalisme melalui pengibaran bendera dan ajakan-ajakan anti pembajakan.

Datang di Acara ini sungguh bikin puas. Bukan hanya terhibur dengan Band dan artis papan atas semata. Tapi, suasana taman Prambanan yang adem, aneka game, dan bazaar membuat kami betah 9 Jam di sana. Hampir tiap Band dan artis membuat penampilan khusus saat mereka manggung. Beberapa yang mendapat Apresiasi bagus dari penonton misalnya J-Rock, Pas Band, dan Nidji.

Pagelaran Soundrenaline 2008 di Prambanan lebih heboh dan enjoy di banding tahun 2003 yang mengambil tempat di Alun-alun Utara. Dari segi jumlah penonton dan suasana taman sangat bagus untuk pagelaran musik akbar semacam ini. Salah satu yang membuat kami salut adalah para penonton di saat Ashar dan Maghrib banyak yang tetap Sholat di Mushola-mushola kecil maupun berjamaah di tanah rumput yang luas.

Saat pukul 23, ketika GIGI sebagai band terakhir tinggal beberapa lagu kami pulang, karena kondisi yang sudah sangat payah. Belum lagi esok harus kembali ke rutinitas berangkat pagi pulang petang. Yang penting kami puas dan isteri yang ingin melihat Bunga Citra lestari dan Afgan terlaksana. Meski Band Idola saya SLANK tidak ikut manggung di Prambanan.

Read More......